Daun Sisa Panen Diolah Jadi Keripik Bernilai Jual Tinggi

Sumber:http://www.ciputraentrepreneurship.com

Daun sisa panen sering kali dijadikan sampah atau pakan ternak. Padahal, daun sisa panen bisa bernilai jual. Di tangan siswa SMKN 1 Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, daun-daun sisa panen diolah menjadi keripik, dikemas bagus, dan diberi merek Edutekpan.

Pacet dikenal sebagai daerah penghasil sayuran. Namun, saat panen melimpah, petani tidak menikmati untung karena harga jual merosot. Berangkat dari keprihatinan melihat nasib petani, sebagai sekolah menengah berbasis program keahlian pertanian, SMKN 1 Pacet mengembangkan kreativitas dengan memanfaatkan berbagai jenis daun sisa panen. Salah satunya, daun singkong yang terbuang saat panen raya singkong. Daun yang biasanya hanya dijual untuk sayur diolah menjadi keripik berbentuk bulat pipih dengan rasa mirip keripik paru.

Daun wortel pun yang biasanya dibuang atau menjadi pakan ternak diolah menjadi keripik. Keripik Edutekpan, kepanjangan dari edukasi teknologi pengolahan hasil pertanian, ini dikemas dalam kantong plastik 100 gram dijual Rp 7.000 per bungkus.

Pengolahan keripik dari dedaunan terus dikembangkan. Daun lokatmala yang tumbuh liar di daerah pegunungan dan sering kali tidak dimanfaatkan ternyata bisa dijadikan keripik renyah yang nikmat. Produk lain produksi SMKN 1 Pacet adalah keripik bayam, cheese stick bayam merah dan hijau, pangsit jamur, serta yogurt kedelai.

Semula keripik Edutekpan hanya dipasarkan siswa di sekitar Pacet dan Cipanas yang merupakan daerah wisata. Kini, keripik yang dikembangkan pusat bisnis Edutekpan sudah merambah Jakarta dan sejumlah kota lain. Kantin Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) minta dikirim rutin. Setiap minggu dikirim beragam jenis keripik 100-150 bungkus. Keripik ini juga menjadi salah satu camilan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar acara mantu di Cipanas.

Dalam berbagai pameran di Jakarta dan kota-kota lain ataupun kunjungan sekolah lain atau masyarakat ke SMKN 1 Pacet, beragam keripik Edutekpan terjual habis. Di ajang pameran, siswa mengemas lima jenis keripik dalam tas didesain khusus. Dengan harga jual Rp 35.000- Rp 40.000, keripik bisa terjual hingga 200 paket.

Kantong plastik ataupun tas kertas untuk mengemas keripik diproduksi sendiri oleh siswa. Stiker Edutekpan didesain siswa program keahlian teknik komputer jaringan.

�Proses pengolahan dan pengemasan dilakukan di sekolah. Siswa bergiliran memproduksi keripik. Untuk tiap jenis daun, diproduksi keripik 5-10 kilogram per hari,� kata Wakil Kepala SMKN 1 Pacet Nandang Jauharudin.

Akib Ibrahim, Kepala SMKN 1 Pacet, menuturkan, sekolah mengembangkan sistem pembelajaran blok. Pembelajaran dilaksanakan selama tiga bulan khusus teori, tiga bulan berikutnya praktik lapangan.


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

admin pppptk

Leave a Comment

three + five =